Senin, 16 April 2012

iyyaka na’budu



Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Akbar Ibnu Arabi dalam kitabnya Al Futuhat Al Makkiyah. Berikut petikannya:

Seorang ustadz bercerita bahwa ia memiliki seorang murid kecil yang terbiasa membaca Al Quran kepadanya. Suatu hari, ia melihat wajah muridnya sayu. Ia pun bertanya tentang kondisi murid itu kepada teman-temannya. Ada yang menjawab bahwa anak itu telah shalat malam dengan mengkhatamkan seluruh Al Quran.

Ia lalu bertanya kepadanya, “Wahai anakku, saya diberitahu bahwa kamu semalam mengkhatamkan seluruh Al Quran dalam shalatmu.”

“Benar, ustadz.” jawab murid itu.

“Wahai anakku, nanti malam, bayangkanlah wajahku di depanmu sewaktu kamu shalat lalu bacalah Al Quran di hadapanku dan jangan kamu lalai.”

“Ya, ustadz.”

Ketika pagi hari, ia bertanya, “Apakah kamu sudah melakukan apa yang aku pesankan?”

“Sudah, ustadz.”

“Apakah kamu mengkhatamkan Al Quran?”

“Tidak, aku tak mampu menyelesaikan lebih dari separo Al Quran.”

“Wahai anakku, itu cukup baik. Nanti malam, hadirkanlah bayangan wajah salah seorang sahabat Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang telah mendengarkan Al Quran langsung dari Rasulullah, lalu bacalah di depannya dan hati-hati jangan sampai salah.”

“Insyaallah, ustadz. Saya akan lakukan.” jawab sang murid.

Keesokan harinya, ia bertanya lagi, “Apakah kamu sudah melakukan apa yang aku pesankan?”

Murid itu menjawab, “Saya tak mampu membaca lebih dari seperempat Al Quran.”

“Baiklah, nanti malam kamu bayangkan wajah Rasulullah yang telah menerima wahyu Al Quran itu dan sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”

“Baik, ustadz.”

Keesokan harinya, ketika guru bertanya, murid itu menjawab,

“Aku tak mampu membaca lebih dari satu juz saja atau sekitar itu.”

“Wahai anakku, nanti malam kamu bayangkan wajah Jibril yang telah mendiktekan Al Quran kepada Rasulullah, bacalah di depannya dan sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”

“Baik, ustadz.”

Keesokan harinya, ketika ia bertanya, murid itu menjawab,

“Saya tidak mampu membaca lebih dari beberapa ayat saja.” sambil menyebutkan ayat-ayat Al Quran yang ia baca.

“Wahai anakku, malam nanti bertaubatlah kepada Allah dan menunduklah. Ketahuilah bahwa orang yang sedang shalat itu adalah orang yang sedang berduaan dengan tuhannya. Renungkanlah apa yang kamu baca. Yang terpenting bukanlah memperbanyak bacaan, tapi tadabbur (menghayati) ayat-ayat yang kamu baca. Maka, jangan sampai kamu lalai.”

Keesokan harinya, sang guru tidak menemui murid itu. Ada yang mengatakan bahwa ia sedang sakit. Lalu ia menjenguknya.

Ketika melihat wajah ustadznya, murid itu menangis sambil berkata,

“Wahai ustadz, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan. Aku belum pernah menyadari bahwa aku telah berbohong kecuali semalam tadi. Semalam aku telah membayangkan wajah Allah dalam shalatku, lalu aku pun merasa berat ketika membaca Al Quran di depan-Nya, aku tidak bisa menyelesaikan surat Al Fatihah kecuali hanya sampai Maliki Yaumiddin saja. Ketika aku hendak membaca Iyyaka na’budu, aku malu. Aku merasa telah berdusta di hadapan Allah. Aku mengaku hanya menyembah-Nya saja, tapi kenyataannya aku masih lalai dalam menyembah-Nya. Aku tidak bisa ruku’ sampai terbit fajar. Aku takut menghadap Allah dalam keadaan yang tidak aku sukai ini.”

Tiga hari kemudian, murid tersebut meninggal dunia. Ketika dimakamkan, sang ustadz mengunjungi kuburannya lalu bertanya tentang keadaannya di sana. Tiba-tiba ia mendengar suara pemuda itu dari bawah kuburan, “Wahai Ustadz, saya hidup di sisi Sang Maha Hidup. Dia tidak menghisabku sedikit pun.”

Kemudian ustadz itu pulang ke rumahnya dalam keadaan sakit, ia terbaring di atas ranjang akibat melihat kejadian itu. Tak lama kemudian, ia pun meninggal dunia menyusul pemuda tersebut.

Syaikh Ibnu Arabi berkata, “Barangsiapa membaca iyyaka na’budu seperti bacaan pemuda itu, ia telah benar-benar membacanya.”

(Sumber: Al Futuhan Al Makkiyah: Safar 6 hal. 297 cet. Sorbon; 2/6-7 Maktabah Syamilah)

Saudaraku, sudah berapa kali kita shalat? Pernahkah kita merasakan apa yang dirasakan oleh pemuda tadi? Sungguh, seandainya setiap orang yang shalat menghayati ayat-ayat yang sedang ia baca, niscaya shalat itu akan menjadi energi luar biasa yang akan merubah dirinya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang shalat sedang berduaan dengan Tuhannya.”

Wallahu a’lam bis showab.
Semoga bermanfaat.

Wassalam,...
@airfine

Sabtu, 14 April 2012

Untuk kita (laki-laki)...!!!

Tetap bahagia ya bapak dan ibu... :)
Semoga masih ada perempuan kayak ibu di atas...!!!


Untuk kita laki-laki,...!!!
SEMOGA,... kita nanti pada waktunya bisa mendapatkan seorang bidadari yang menjadi pasangan sejati yang bisa menerima kita dalam keadaan susah dan senang,...
Kita harus mulai berpikir apabila kita diberikan cobaan dari Allah SWT jatuh sejatuh-jatuhnya dalam keadaan sangat kekurangan, pasangan kita bisa selalu setia dan terus memberikan motivasi dan kekuatan lebih untuk bisa bangkit, maka itulah pasangan sejati kita,...

Itu yang susah sekarang, terbiasa hidup enak,...tiba-tiba jatuh dan pasangan wanita kita malah pergi sambil melambaikan tangan dengan ucapan "Nanti kalau sudah sukses lagi kasih kabar yaaa,...saya mau pulang ke rumah mama saya dulu, saya anti miskin n nggak bisa hidup serba susah kayak gini..."
Wahhh,...saya doain nggak bakal masuk surga tu perempuan...

Carilah wanita yang bisa menemani kita dalam keadaan kita sebaik-baiknya dan sejatuh-jatuhnya,...karena itulah sesungguhnya jodoh sejati kita...

@airfine,...

Selasa, 10 April 2012

NATURAL


NATURAL - D'Masiv

[intro] C

C
                   Gm
ku suka kamu apa adanya
  F                     C

senatural mungkin aku lebih suka
   C                  Gm

ku suka kamu begini saja
  F              Fm                   C

bukan karena ada apa-apanya dari yang kau punya
      Dm         F
aku hidup di dunia
        C                
ingin tenang baik-baik saja
       Dm        F            G

bersamamu aku bisa melewati itu

[chorus]

      C       G/B     Am  G

bukan aku yang mencarimu
       F        Em   Dm   G

bukan kamu yang mencari aku
      C         G/B   Am  G

cinta yang mempertemukan
    F         Em   Dm   G

dua hati yang berbeda ini

C
                    Gm
ku suka kamu apa adanya
  F                     C

senatural mungkin aku lebih suka
   C                 Gm

ku suka kamu begini saja
F                Fm                   C

bukan karena ada apa-apanya dari yang kau punya
      Dm         F
aku hidup di dunia
        C                
ingin tenang baik-baik saja
       Dm        F            G

bersamamu aku bisa melewati itu melewati itu

[chorus]

      C       G/B     Am  G

bukan aku yang mencarimu
       F        Em   Dm   G

bukan kamu yang mencari aku
      C         G/B   Am  G

cinta yang mempertemukan
    F         Em   Dm   G

dua hati yang berbeda ini

[solo] 
C G/B Am C7 F A# C G
      C         G/B   Am  G
cinta yang mempertemukan
    F         Em   Dm   G

dua hati yang berbeda ini
      C       G/B     Am  G
bukan aku yang mencarimu
       F        Em   Dm   G

bukan kamu yang mencari aku
      C         G/B   Am  G

cinta yang mempertemukan
    F         Em   Dm   G

dua hati yang berbeda ini
    Dm        Em   F    G  C

dua hati yang berbeda ini

Minggu, 01 April 2012

Bukan lagi tentang AFIKA, demo BBM, atau kisruh PSSI, tapi tentang hal ini...!!!


BISA KALIAN LIHAT INI...!!!
SEKARANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK AFIKA, DEMO BBM ATAU KISRUH PSSI... SEKARANG WAKTUNYA UNTUK SITI, BOCAH PENJUAL BAKSO...

Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong gerobak bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.

Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja !!!!! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja !!!!!. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.

Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.

Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.

Baksooo...baksoooo...suara siti menawarkan baksonya..suaranya bikin hati yg mendengarnya bagai tersayat-sayat...
Kepikiran dengan kondisi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person (Pak Tono).

Semoga menyentuh hati nurani kita semua.

- Saatnya kita merenungkan, bersyukur & membuka pintu hati utk sebentuk kehidupan yg   
   jauh kurang beruntung dr kita.
- Jika ingin berderma, sedikitpun sangat membantu, namun jika mampu, lebih baik 
   memberikan "kail" daripada "ikan"-nya.
-  Jika setiap satu keluarga mampu saja di Indonesia membantu satu keluarga tidak  
   mampu, INSYAALLAH angka kemiskinan di Indonesia akan sangat berkurang.
-  Jika setiap satu keluarga mampu saja bisa menjadi orang tua asuh bagi anak-anak dari 
    keluarga tak mampu, INSYAALLAH Indonesia 10-20 tahun kedepan akan dipenuhi generasi-generasi hebat dan tahan banting, karena mereka telah merasakan bagaimana kerasnya hidup dan mencari sedikit nasi untuk bertahan hidup. Generasi ini yang akan membuat Indonesia maju dibandingkan generasi-generasi cengeng yang selalu berlindung di balik ketiak orang tua, pemalas-pemalas yang makan tinggal makan dan selalu hura-hura tanpa memikirkan saudara setanah air yang sedang kritis karena kurang makan di saat yang sama, bahkan kalau binatang dan bunga bangkai bisa bicara bahasa manusia, mereka akan berkata kepada generasi-generasi cengeng dan pemalas ini sebagai kalangan-kalangan manusia yang hanya membuat Indonesia menjadi lebih sempit saja dan membuat bumi lebih berat saja...!!!

Wassalam,...
(@airfine),...