Assalamualaikum,...
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 1778)
Dari ‘Imran bin Murrah Al-Juhani radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
Seseorang datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya
berkata:
“Wahai Rasulullah, apa pendapat anda
bila aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali
Allah saja dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, aku
mengerjakan shalat lima waktu, menunaikan zakat dan puasa di bulan
Ramadhan, maka termasuk dalam golongan manakah aku?” Rasulullah
menjawab: “Engkau termasuk golongan shiddiqin dan syuhada.” (HR.
Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya, dan
lafadz yang disebutkan adalah lafadz Ibnu Hibban. Dishahihkan Asy-Syaikh
Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 989)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Telah datang pada kalian Ramadhan bulan yang diberkahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas kalian untuk puasa di bulan ini. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu setan-setan yang sangat jahat. Pada bulan ini Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan untuk mendapatkan kebaikan malam itu maka sungguh ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad, 2/385, An-Nasa`i no. 2106, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 985, Al-Misykat no. 1962)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 549)
Cukuplah kiranya keutamaan bagi Ramadhan dengan Allah Subhanahu wa
Ta’ala memilihnya di antara bulan-bulan yang ada untuk Allah Subhanahu
wa Ta’ala turunkan kitab-Nya yang mulia di bulan berkah tersebut, di
malam yang penuh kemuliaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang batil.” (Al-Baqarah: 185)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur`an itu pada malam Qadar (malam kemuliaan).” (Al-Qadar: 1)
Hikmah disyariatkannya puasa dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullahu berkata:
“Perkara takwa yang dikandung puasa di antaranya:
“Perkara takwa yang dikandung puasa di antaranya:
- Orang yang puasa meninggalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
haramkan kepadanya berupa makan, minum, jima’ dan semisalnya, sementara
jiwa itu condong kepada perkara yang harus ditinggalkan tersebut. Semua
itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, mengharapkan pahala-Nya. Ini termasuk takwa.
- Orang yang puasa melatih jiwanya untuk merasakan pengawasan Allah
Subhanahu wa Ta’ala (muraqabatullah), maka ia meninggalkan apa yang
diinginkan jiwanya padahal ia mampu melakukannya, karena ia mengetahui
pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya.
- Puasa itu menyempitkan jalan setan, karena setan itu berjalan pada
anak Adam seperti peredaran/aliran darah. Dan puasa akan melemahkan
jalannya sehingga mengecilkan perbuatan maksiat.
- Orang yang puasa umumnya memperbanyak amalan ketaatan sementara amalan ketaatan termasuk perangai takwa.
- Orang yang kaya jika merasakan tidak enaknya lapar maka mestinya ia
akan memberikan kelapangan/memberi derma kepada orang-orang fakir yang
tidak berpunya. Ini pun termasuk perangai takwa. (Taisir Al-Karimir
Rahman, hal. 86)
Dengan demikian sungguh tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa
seharusnya momentum Ramadhan dijadikan langkah awal untuk memperbaiki
iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk kemudian iman dan
takwa itu terus dipupuk dan dirawat di bulan-bulan selanjutnya. Dan
jangan dibiarkan terpisah dari jiwa dan raga hingga datang jemputan dari
utusan Ar-Rahman (malaikat maut).
(Disunting dari tulisan panjang oleh Al Ustadz Muslim Abu Ishaq yang berjudul “Introspeksi Diri di Bulan Suci Ramadhan”)
Selamat menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan,...
1 Ramadhan 1433 H
1 Ramadhan 1433 H
Terserah mau puasa hari Jumat atau Sabtu yang penting bagaimana kita menjalankan ibadahnya dan mempertahankan bahkan meningkatkan kaualitas keimanan kita setelah bulan Ramadhan berakhir nanti.
Wassalam,...
(@airfine)
(@airfine)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar