Sebenarnya dalam teori kepemimpinan cukup banyak pula yang mengutarakan tentang apa dan siapa pemimpin sejati.
Diskusi mengenai pemimpin sejati, sayangnya sering berakhir pada
beberapa kesimpulan yang kadang tidak mudah untuk dimengerti dengan
baik.
Kerap disebut bahwa seorang pemimpin sejati adalah dia yang memiliki
kepercayaan diri yang kokoh untuk berdiri sendiri, berani untuk
mengambil keputusan-keputusan yang sulit dan mengandung risiko,
sekaligus memiliki rasa kasih sayang dalam konteks peduli dengan
kebutuhan orang lain. Dikatakan pula, pemimpin juga tidaklah berujud seseorang yang selalu
berusaha mengajukan dirinya untuk menjadi pemimpin, akan tetapi
seseorang yang kualitas tampilan sosok dan karakter pribadinya terlihat
menonjol sehingga banyak orang lain yang justru memintanya untuk menjadi
pemimpin mereka.
Dia adalah sosok seorang dengan integritas yang terlihat menonjol dalam keseharian dibanding orang-orang lain disekitarnya.
Pemimpin laksana seekor elang yang tidak pernah terbang berkelompok,
tetapi terbang seorang diri sebagai pemberani, jauh dari kepura-puraan
yang tentu saja kemudian hanya akan dapat dijumpai atau muncul pada
saat-saat tertentu saja.
Lalu bagaimana kita bisa berharap untuk dapat melihat banyak generasi
muda tentara Indonesia berkompetisi dengan sehat dan penuh antusias
untuk menjadi jenderal, laksamana dan marsekal. Memberikan banyak pelajaran kepada para perwira tentang perang dan
peperangan, tentang strategi dan taktik militer tentang semua hal yang
merupakan tugas pokok sebuah organisasi yang didesain untuk perang
adalah sangat penting dalam pembinaan perwira.
Mungkin tidak cukup hanya diberikan pada sekolah staf dan komando
saja, tetapi kebiasaan mempelajari, membahas dan mendiskusikan semua
aspek tentang perang-perang yang pernah terjadi, seharusnya lebih
diberikan kesempatan pada seluruh perwira. Mempelajari apa yang diperbuat oleh para panglima-panglima perang
kenamaan yang sukses memenangkan perang harus dapat disajikan dengan
menarik kepada para calon komandan dan panglima. Membaca literatur dari para suhu dan jagoan perang juga akan sangat bermanfaat dalam keseluruhan pembinaan perwira militer.
Kesemua itu dapat sedikit banyak membantu turut membentuk karakter
perwira sebagai ksatria penjaga bangsa dan ibu Pertiwi yang tidak mudah
tergoda dengan sekedar popularitas dan kekayaan.
Napoleon Bonaparte bahkan menyerukannya dengan spesifik, ”Read over
and over again the campaigns of Alexander, Hannibal, Caesar, Gustavus,
Turenne, Eugene and Frederic…..this is the only way to become a great
general and master the secrets of the arts of war”.
Saya menerjemahkan dengan bebas, baca, baca dan bacalah lagi.
Sayangnya, membaca adalah justru kelemahan terbesar dari banyak para
perwira kita.
Negeri ini membutuhkan tentara sejati, anak-anak muda pemberani, para
perwira ksatria yang senantiasa siap mengabdikan dirinya kepada negara
dan bangsa yang dicintainya dan tidak kenal menyerah. Berpulang juga tanggung jawab ini kepada kita semua untuk saling bahu
membahu agar negeri ini dapat menghasilkan para perwira sejati yang
tidak mudah tergoda kepada hal-hal selain bagi kejayaan Indonesia.
oleh Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim
Gambar : Pahlawan Kemerdekaan (M. Natsir)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar