Apakah anda pernah melihat pemulung?
Pasti pernah kan ya, baik secara langsung ataupun sekedar melihat sosok tersebut di TV.
Sekarang coba kita ingat-ingat kembali pernahkah kita bertemu sama pemulung? Atau sekedar melihat pemulung dari jauh di jalan atau di depan tempat pembuangan akhir(TPA). Ataupun kalau memang belum pernah lihat, setidaknya sekarang coba bayangkan kalau anda sedang melihat seorang pemulung yang sedang melaksanakan tugas hariannya, memungut sampah.
Apa yang anda rasakan?
Jijik? Mual? Ingin muntah? Ingin jauh-jauh dan cepat-cepat pergi dari makhluk dengan tubuh kotor tak terawat, baju compang-camping, dengan tas karung usang berisi sampah, dan sebuah kawat karatan?
Jika jawabannya adalah ya, maka cobalah berkaca pada diri anda sekarang.
Apa menurut anda profesi, sikap dan tingkah laku anda masih jauh lebih baik dari seorang pemulung?
Apa anda sudah cukup berperan melestarikan lingkungan seperti mereka?
Dan jika jawabannya adalah tidak, selamat, berarti anda masih punya hati nurani.
Tragis memang,
betapa pada kenyataannya keberadaan pemulung di indonesia begitu diabaikan dan cenderung distigmakan.
Kita tidak suka dengan kehadiran pemulung, padahal faktanya kita yang sering buang sampah sembarangan.
Kita jijik melihat pemulung menggeruk sampah yang sudah bercampur baur tak keruan, kotor, dan sangat bau padahal kalau saja kita mau memilah sampah menjadi sampah basah dan sampah kering, para pemulung bisa memunguti sampah kering yang masih bisa digunakan dalam keadaan bersih dan tidak bau.
Kita sering menghina mereka, tanpa sadar kalau sebenarnya kita jauh lebih hina.
Kita sering merendahkan, dan bahkan mungkin membenci kaum yang kita anggap rendahan seperti pemulung, pengemis, pengamen, peminta-minta, dan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan lainnya, tanpa sadar kalau kita -manusia yang suka menghambur-hamburkan uang di atas penderitaan saudaranya-lah yang jauh lebih hina.
"Manusia senang merendahkan manusia lain yang dia anggap lebih rendah, tanpa sadar kalau dengan aksi merendahkannya itu dirinyalah manusia yang paling rendah di mata Tuhan".
Seharusnya para pemulung mendapat gelar pahlawan lingkungan, mendapatkan gaji dan tempat tinggal yang layak dari pemerintah, atas semua jasanya membantu pelestarian lingkungan melalui pemungutan sampah untuk didaur ulang.
Wassalam,...
(@airfine),...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar