Yang Tercantik,...bersamamu... :)
Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa.
Tak mampu kutepikan. Nyatanya, rumah hatimu adalah tumpah rinduku.
Berkemah merangsak sumsum; mengibarkan bendera kegelisahan yang membukitkan luka, juga bahagia.
Jika boleh memilih, aku membutuhkan rindu sebagai kata cantik yang ingin kudengar dari bibirmu, setiap hari.
Seperti berpuluh malam yang kita pahat dengan napas surgawi. Seperti berpuluh mimpi yang kita hias dengan warna pelangi.
Tak mampu kutepikan. Nyatanya, rumah hatimu adalah tumpah rinduku.
Berkemah merangsak sumsum; mengibarkan bendera kegelisahan yang membukitkan luka, juga bahagia.
Jika boleh memilih, aku membutuhkan rindu sebagai kata cantik yang ingin kudengar dari bibirmu, setiap hari.
Seperti berpuluh malam yang kita pahat dengan napas surgawi. Seperti berpuluh mimpi yang kita hias dengan warna pelangi.
Biarpun meremuk redam, salahkah jika terus kutimang rindu ini —untukmu,
Ah, memang tak butuh teori.
Aku hanya ingin jatuh cinta dan terjun bebas bersamanya.
Aku hanya ingin jatuh cinta dan terjun bebas bersamanya.
Berharap diayun ketiadaan. Memangsa getar membumi batu. Berkalang tanah menjadi seonggok rasa basi.
Sepi ini telah menelantarkan kelakar tawa. Menyesatkan hati di lembah keterasingan. Membawa jejakku terpenjara dalam pusaran labirin yang berliku.
Rumah hatimu adalah tumpah rinduku. Berkemah merangsak sumsum; mengibarkan bendera kegelisahan yang membukitkan luka, juga bahagia. Setiaku membabibuta. Kalap membumihanguskan nalarku.
Entah nyata atau semu.
Entah berharga atau sia-sia, aku hanya ingin hadir ditimang lugu senyummu, dan menangis di sudut bibirmu.
Sepi ini telah menelantarkan kelakar tawa. Menyesatkan hati di lembah keterasingan. Membawa jejakku terpenjara dalam pusaran labirin yang berliku.
Rumah hatimu adalah tumpah rinduku. Berkemah merangsak sumsum; mengibarkan bendera kegelisahan yang membukitkan luka, juga bahagia. Setiaku membabibuta. Kalap membumihanguskan nalarku.
Entah nyata atau semu.
Entah berharga atau sia-sia, aku hanya ingin hadir ditimang lugu senyummu, dan menangis di sudut bibirmu.
Menanti dan menunggu hadirmu membuat jantungku berdegub kencang, dan mematuk nada berulang-ulang.
Seperti menabuh genderang di belantara tak bertuan.
Hingar gelombang suaramu telak kudengar…dan bisa kuhirup napasmu dari kejauhan.
Menunggumu berjalan ke pangkuan, menghadirkan rindu menusuk tajam.
Apalagi yang bisa kureka-reka saat itu, selain merasakan dan menyentuh magis rindumu, selebihnya aku hanya ingin mengurai segala tentangmu, tanpa pengecualian.
Seperti menabuh genderang di belantara tak bertuan.
Hingar gelombang suaramu telak kudengar…dan bisa kuhirup napasmu dari kejauhan.
Menunggumu berjalan ke pangkuan, menghadirkan rindu menusuk tajam.
Apalagi yang bisa kureka-reka saat itu, selain merasakan dan menyentuh magis rindumu, selebihnya aku hanya ingin mengurai segala tentangmu, tanpa pengecualian.
Untuk yang tercantik dan terindah,...disana... :)
dari Muhammad Irfan Riyansyach

Tidak ada komentar:
Posting Komentar